ReviewReviewReviewNagabonar Jadi2May 21, '07 11:18 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Akmal Nasery Basral
Novel-novel adaptasi dari skenario film belakangan kian marak di Idonesia. Entah novel yang menyusul kesuksesan filmnya atau film yang sengaja dibuat untuk mewujudkan secara gamblang imajinasi seseorang dengan menyaksikan film tersebut. Pertanyaan ini bermuara pada jawaban ; ENTAH. Sama saja dengan mencari jawaban mana yang lebih dulu, telur atau ayam?

Di Indonesia sendiri, yang minat membaca masyarakat masih tergolong rendah ini, kebanyakan orang lebih memilih menonton daripada membaca. Tapi, pada diri saya pribadi, pertanyaan yang muncul kemudian setelah menonton film Nagabonar Jadi 2 ini

Adalah bentuk penasaran saya, apakah sama yang diceritakan di film dengan apa yang dituangkan ke dalam novel?

Novel Nagabonar Jadi 2 ini sangat enak dibaca, karena tidak serta merta memindahkan skenario ke dalam ceritanya, tidak seperti novel-novel adaptasi lainnya yang sama sekali tidak memberikan hal-hal baru bagi pembacanya. Sama seperti filmnya, Novel ini mengandung pesan humanis dan dikemas dengan dialog yang ringan dan lancar, serta kerap dibumbui oleh humor membuatnya menjadi semakin menarik Membuat saya enggan melewatkannya barang sejenak Selain itu, novel ini menjadi pelengkap filmnya, banyak hal yang tidak diungkapkan dengan detail di dalam film dan kita dapat menemukannya dengan membaca.

Kesamaan novel ini dengan filmnya adalah terletak pada nama, karakter, alur cerita, dan akhir cerita, dan perbedaannya adalah penutur dalam novel ini hanya Nagabonar saja sebagai orang pertama sedangkan di dalam film, dinarasikan menurut sudut pandang orang ketiga.

Novel ini dibuka dengan kisah yang persis sama dengan yang ditayangkan dalam film, yang menggambarkan perkebun kelapa sawit Nagabonar yang menghasilkan, sehingga Nagabonar mampu menyekolahkan anaknya (Bonaga) ke Inggris. Bonaga anak semata wayangnya kini menjadi pengusaha sukses itu akan menjemput Nagabonar menuju Jakarta.

Muncullah masalah ketika Bonaga mengutarakan maksud mengajak ayahnya ke Jakarta untuk menyampaikan keinginan untuk membangun resort mewah di tanah perkebunan kelapa sawit milik Nagabonar. Padahal di perkebunan tersebut ada makam tiga orang yang paling disayang Nagabonar, yakni ; emak Nagabonar, Kirana (istri Nagabonar) dan Bujang (sahabat Nagabonar). Tentu saja hal ini ditolak oleh Nagabonar. Inilah yang menjadi konflik utama dalam kisah Nagabonar jadi 2 ini.

Konflik lain adalah, kisah cinta Bonaga dan Monita. Mereka saling mencintai, namun karena latar belakang Bonaga yang dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu inilah yang mengakibatnkan Bonaga kesulitan menyatakan cintanya kepada Monita, Padahal Monita sangat menunggu kepastian cinta serta harapan-harapan yang diberikan oleh Bonaga kepadanya.

Dalam novel ini, kisah kisah dari film pertama dituturkan kembali meski tidak secara lengkap. Detail itu adalah kisah tentang masa kecil Nagabonar, dan ikhwal bagaimana dia menjadi pencopet, meskipun ada beberapa adegan di film yang terlewatkan, dijelaskan lebih detail di novelnya.

Yang menarik buat saya adalah kelucuan dan kritik-kritik Nagabonar terhadap kehidupan sosial di Jakarta. Ini ditunjukkan pada saat Nagabonar berkeliling Jakarta dengan Bajaj yang dikemudikan Umar, yang kemudian menjadi sahabatnya. Hal menarik lain menurut saya adalah, tidak adanya tokoh antagonis dalam novel ini. Mungkin berbeda dengan pembaca yang lain yang mengharapkan adanya tokoh antagonis. Saya lebih menyukai kisah humanis sekaligus humoris, serta mampu mengundang gejolak emosi pembacanya.

Novel ini sangat baik untuk dibaca. Baik sesudah menonton filmnya ataupun belum. Satu lagi, kita dapat memiliki novel dengan sampul tokoh mana yang akan kita pilih, Nagabonar atau Bonaga?. Karena novel ini dikemas dengan sampul dengan gambar Nagabonar (Dedy Mizwar) dan Bonaga (Tora Sudiro) secara terpisah.


ndahndut wrote on Jun 5, '07
hmm bagusan filem apa novel
mimimama wrote on Jun 19, '07
wah kalo novelnya belom baca tuh, mestinya lebih banyak detailnya yah? kalo film kan mesti dipotong2 demi njaga durasi. dan sebenernya aku pribadi lebih suka baca buku daripada nonton film, soalnya dari buku itu kita bisa bebas berfantasi seperti apa situasi/karakter yg diceritakan. giliran nonton filmnya lho lha kok ternyata si anu kyak gitu? nggak salah casting tuh? hahahaaa...
bagkinantan wrote on Jul 21, '07
pengen beli bukunya, tapu belom kebeli... jadinya nonton dulu. keliatannya sama asyiknya tuh. bedanya kalo baca, kita lebih bisa membangun ruang imajinasi kita sendiri...
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.